Oleh: Arifin Al Bantani

Belajar dari Syekh Nawawi al-Bantani berarti belajar tentang keteguhan ilmu yang berpadu dengan kerendahan hati, tentang bagaimana seorang anak kampung dari Tanara, Banten, mampu menjejakkan pengaruhnya hingga ke pusat peradaban Islam dunia, tanpa kehilangan akarnya sebagai santri.

Syekh Nawawi tidak sekadar alim dalam pengertian hafalan dan kitab. Ia adalah contoh bahwa ilmu sejati lahir dari kesungguhan, kesabaran, dan keberanian menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan. Di saat banyak orang berlomba mendekati penguasa, ia memilih mendekat pada ilmu. Di saat popularitas belum dikenal, ia justru abadi melalui karya.

1. Ilmu sebagai Jalan Pengabdian

Syekh Nawawi menulis puluhan kitab tafsir, fikih, tasawuf, bukan untuk mengukuhkan nama, melainkan untuk melayani umat. Karyanya seperti Tafsir Marah Labid mengajarkan bahwa memahami wahyu bukan hanya soal bahasa, tetapi juga akhlak dan kepekaan sosial.

Dari sini kita belajar:

Ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk merendahkan ego.

Di zaman kini, ketika ilmu sering dipamerkan di layar dan panggung, Syekh Nawawi mengingatkan bahwa kedalaman lebih penting daripada keramaian.

2. Ilmu Harus Ditulis agar Bermanfaat

Syekh Nawawi dikenal sangat produktif menulis. Ia menghasilkan banyak kitab dalam bidang:

Tafsir (misalnya Tafsīr Marāḥ Labīd li Kasyfi Ma‘nā al-Qur’ān al-Majīd (dikenal juga sebagai Tafsir Munīr)

Fikih (misalnya Nihayatuz Zain fī Irsyādir Rāfi‘ī wal Ghazālī, Kāsyifatus Sajâ, Qūtul Ḥabīb al-Gharīb (Syarah Fathul Qarīb)

Akidah (misalnya Fathul Majīd→ Syarah kitab tauhid, Nūrudz Ẓalām ‘alā Manẓūmah ‘Aqīdah al-‘Awām)

Tasawuf dan akhlak (Nashā’iḥul ‘Ibād→ Kumpulan nasihat, hikmah, dan peringatan moral).

Menulis baginya adalah cara mengabadikan ilmu dan memperluas manfaatnya.

3. Kesederhanaan sebagai Kekuatan

Meski diakui sebagai ulama besar di Makkah, Syekh Nawawi tetap hidup sederhana. Ia tidak membangun istana gagasan yang menjauh dari realitas umat. Justru kesederhanaannya membuat ilmunya membumi dan bertahan lintas generasi.

Pelajaran ini relevan bagi kita yang hidup di era serba cepat:

Kesederhanaan menjaga keikhlasan

Keikhlasan melahirkan keberkahan

Keberkahan membuat ilmu hidup lebih lama daripada usia penulisnya

4. Identitas Lokal, Dampak Global

Syekh Nawawi tidak pernah menanggalkan identitasnya sebagai orang Banten. Ia membuktikan bahwa kearifan lokal tidak menghalangi keluasan pemikiran, justru menjadi fondasi yang kokoh.

Dari Tanara ke Makkah, dari pesantren ke dunia, ia menunjukkan bahwa:

Berpikir global tidak harus tercerabut dari akar lokal.

Ini adalah pesan penting bagi generasi hari ini: menjadi modern tanpa kehilangan jati diri.

Lebih jauh lagi, Syekh Nawawi menunjukkan bahwa budaya lokal Banten tidak bertentangan dengan wawasan global. Meski lama bermukim di Makkah dan berinteraksi dengan dunia Islam internasional, identitas kebantenannya tidak luntur. Hal ini memberi pesan bahwa budaya Banten memiliki kelenturan: mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri.

5. Keteladanan Moral di Atas Segalanya

Di atas semua itu, warisan terbesar Syekh Nawawi bukanlah kitab, melainkan teladan hidup. Ia mengajarkan bahwa ulama sejati adalah mereka yang ilmunya menjelma akhlak, dan akhlaknya menuntun umat menuju kebaikan.

Di tengah tantangan modernitas yang sering mengikis nilai lokal, refleksi atas sosok Syekh Nawawi menjadi penting. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi, dan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai simbol, melainkan harus hidup dalam laku sehari-hari. Budaya Banten, melalui keteladanan Syekh Nawawi, menemukan maknanya sebagai budaya yang berilmu, beradab, dan berakar pada spiritualitas.

Penutup

Belajar dari Syekh Nawawi al-Bantani adalah belajar tentang menjadi besar tanpa merasa besar, tentang berilmu tanpa menggurui, dan tentang berpengaruh tanpa haus pengakuan.

Selama nilai-nilai ketekunan, kesederhanaan, keilmuan, dan akhlak tetap dijaga, budaya Banten akan terus hidup—tidak sekadar dikenang, tetapi dijalani.

Di tengah dunia yang riuh oleh citra dan suara, Syekh Nawawi berbisik lembut dari sejarah:

“Tenangkan dirimu, dalami ilmumu, luruskan niatmu—karena yang abadi bukan siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling bermanfaat.”

Tidak ada satupun Nabi yang dulu nya punya cita cita menjadi Nabi. (*)