Oleh: Arifin Al Bantani
Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ia hadir sebagai puncak dari rangkaian ujian berat yang dialami Nabi Muhammad ﷺ dalam fase paling sunyi dan menyakitkan dalam perjalanan dakwahnya.
Sebelum Allah memperjalankan Rasul-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha, ada luka, kesedihan, dan keteguhan iman yang lebih dahulu ditempa.
1. Tahun Kesedihan (ʿĀmul Ḥuzn)
Beberapa waktu sebelum Isra’ Mi‘raj, Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok paling berarti dalam hidupnya: Khadijah binti Khuwailid, istri sekaligus penopang dakwah, dan Abu Thalib, paman yang melindunginya dari tekanan Quraisy. Tahun itu dikenal sebagai ʿĀmul Ḥuzn—tahun kesedihan.
Secara manusiawi, Rasulullah ﷺ berada pada titik terendah: kehilangan cinta, perlindungan, dan dukungan moral. Namun justru dalam kondisi inilah Allah sedang menyiapkan anugerah besar.
Refleksi:
Dalam kehidupan, sering kali pertolongan Allah datang bukan saat kita merasa kuat, melainkan saat kita benar-benar lemah. Kehilangan dan kesedihan bukan tanda ditinggalkan, melainkan bisa menjadi gerbang menuju penguatan iman.
2. Penolakan dan Kekerasan di Thaif
Setelah tekanan di Makkah semakin berat, Nabi ﷺ pergi ke Thaif dengan harapan dakwahnya mendapat sambutan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: beliau ditolak, dihina, bahkan dilempari batu hingga berdarah.
Dalam keadaan terluka, Rasulullah ﷺ tidak mendoakan kebinasaan bagi mereka. Sebaliknya, beliau berdoa agar keturunan mereka kelak mendapat hidayah.
Refleksi:
Dakwah, kebaikan, dan kejujuran tidak selalu langsung diterima. Respon manusia bisa keras dan menyakitkan. Namun kemuliaan akhlak terlihat bukan saat dipuji, melainkan saat disakiti tetapi tetap memilih memaafkan.
3. Doa di Tengah Keputusasaan
Di kebun milik Utbah dan Syaibah, Rasulullah ﷺ memanjatkan doa yang sangat menyentuh, mengadukan kelemahan dirinya kepada Allah. Doa ini menunjukkan puncak ketawakkalan seorang hamba.
Bukan kemenangan yang beliau minta, melainkan ridha Allah. Selama Allah tidak murka, semua penderitaan terasa ringan.
Refleksi:
Doa bukan hanya permintaan, tetapi pengakuan akan keterbatasan diri. Dalam hidup modern yang serba cepat dan kompetitif, kita sering lupa bersandar sepenuhnya kepada Allah.
4. Isyarat Penghiburan dari Allah
Setelah rangkaian kesedihan itu, Allah mulai memberikan tanda-tanda penguatan: pertemuan dengan Jibril, sambutan dari sebagian jin yang beriman, dan akhirnya peristiwa agung Isra’ Mi‘raj.
Isra’ Mi‘raj hadir sebagai penghiburan ilahi, penegasan bahwa Rasulullah ﷺ tidak sendiri, dan bahwa perjuangannya bernilai sangat tinggi di sisi Allah.
Refleksi:
Setiap hamba yang bersabar dalam ketaatan akan mendapatkan penghiburan dari Allah, meski bentuknya berbeda. Kadang bukan berupa materi, tetapi ketenangan jiwa dan keyakinan iman.
Penutup: Dari Luka Menuju Cahaya
Peristiwa-peristiwa sebelum Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa kemuliaan sering lahir dari penderitaan, dan bahwa perjalanan spiritual seseorang tidak selalu mulus. Allah mendidik Rasul-Nya dengan kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan sebelum memberinya kehormatan besar.
Bagi kita hari ini, kisah ini menjadi pelajaran bahwa ketika hidup terasa berat dan doa seolah tak terjawab, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan “Isra’ Mi‘raj” kita sendiri—kenaikan derajat iman yang hanya bisa diraih setelah kesabaran panjang.
Nasihat paling mahal di dunia ini adalah “peristiwa”…

Tinggalkan Balasan