Ekosistem Kebudayaan di Kota Cilegon Mendapatkan Apresiasi Dari Pemerintah Pusat
CILEGONSATU.ID – Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII Banten, Swedhi Hananta, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Cilegon yang dinilai menunjukkan pertumbuhan ekosistem budaya yang sehat dan berjalan secara alami di tengah masyarakat.
Menurutnya, dinamika kebudayaan di Cilegon memperlihatkan adanya keterlibatan aktif komunitas budaya, seniman, pemerintah daerah, hingga masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan identitas lokal.
“Kami melihat perkembangan kebudayaan di Kota Cilegon sangat baik. Ekosistem budaya tumbuh secara alami karena adanya partisipasi masyarakat yang kuat,” ujarnya, Kamis (23/4/2026) dalam acara peluncuran buku Toponomi Cilegon di rangkaian Cilegon Expo 2026.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII memiliki komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Cilegon agar berbagai program pelestarian budaya dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kami merasa terpanggil untuk terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Cilegon agar program pelestarian budaya semakin berdampak luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Swedhi Hananta menilai sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta pelaku seni menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan kebudayaan di tengah arus modernisasi dan perkembangan industri.
Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni, menambahkan bahwa pembangunan kebudayaan memiliki makna strategis dalam pembangunan daerah.
“Sinergi antara pemerintah, seniman, budayawan, dan masyarakat menjadi kekuatan utama agar ekosistem kebudayaan Cilegon terus tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah pusat dan daerah, Kota Cilegon diharapkan mampu terus berkembang sebagai kota industri modern yang tetap menjaga nilai sejarah, budaya, serta kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. (Red)

Tinggalkan Balasan