Oleh: Arifin Al Bantani
Setiap kali Tahun Baru Imlek tiba, warna merah menghiasi jalanan, lampion-lampion bergelantungan, dan doa-doa terbaik mengalir dalam ucapan yang sederhana namun hangat “Gong Xi Fa Cai—semoga kebahagiaan dan kemakmuran menyertai”. Perayaan ini bukan sekadar pergantian kalender lunar, tetapi momentum harapan, kebersamaan, dan pembaruan diri.
Di Indonesia, Imlek memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Sejak ditetapkan kembali sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Imlek menjadi simbol pengakuan bahwa kebudayaan Tionghoa adalah bagian sah dari wajah Indonesia. Ia bukan milik satu golongan saja, melainkan bagian dari mozaik kebangsaan kita.
Bagi sebagian orang, muncul pertanyaan “bolehkah kita mengucapkan selamat Imlek kepada mereka yang berbeda keyakinan?”. Pertanyaan itu sebenarnya membuka ruang refleksi yang lebih dalam tentang apakah ucapan selamat selalu berarti persetujuan teologis? Ataukah ia lebih merupakan ekspresi empati dan penghormatan terhadap sesama manusia?
Kita mungkin tidak bersaudara dalam iman, tetapi kita bersaudara dalam kemanusiaan. Kita berbagi tanah air yang sama, udara yang sama, dan masa depan yang sama. Dalam konteks itulah, ucapan selamat menjadi jembatan bukan pengaburan identitas, melainkan pernyataan bahwa perbedaan tidak menghalangi kebaikan.
Imlek mengajarkan nilai-nilai universal untuk menghormati orang tua, mempererat keluarga, berbagi rezeki, dan menyalakan harapan baru. Nilai-nilai itu tidak eksklusif untuk satu agama atau etnis. Ia berbicara pada nurani manusia. Ketika kita mengucapkan, “Selamat Tahun Baru Imlek, semoga damai dan sukacita menyertai,” kita sedang menegaskan komitmen pada perdamaian sosial.
Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, harmoni bukanlah sesuatu yang otomatis. Ia perlu dirawat dengan kesadaran dan keberanian untuk melampaui prasangka. Mengucapkan selamat pada hari raya saudara sebangsa yang berbeda iman adalah tindakan kecil, tetapi bermakna besar. Ia menyatakan bahwa identitas tidak perlu menjadi tembok. Ia bisa menjadi jendela untuk saling memahami.
Kita hidup di zaman ketika perbedaan mudah dipolitisasi dan sentimen mudah diprovokasi. Karena itu, sikap saling menghormati justru menjadi bentuk kedewasaan. Menghargai perayaan orang lain tidak membuat kita kehilangan keyakinan, justru menunjukkan bahwa keyakinan kita cukup kuat untuk berdiri tanpa harus merendahkan yang berbeda.
Imlek, pada akhirnya, adalah tentang cahaya di tengah musim yang dingin, tentang keberanian memulai lagi. Maka ketika kita mengucapkan selamat kepada saudara-saudara Tionghoa kita, kita sedang merayakan nilai kemanusiaan yang lebih luas, yaitu persaudaraan, kasih sayang, dan harapan.
Sebab meski kita tidak selalu seiman, kita tetap sepenanggungan dalam kemanusiaan. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari sebuah ucapan selamat. Bukan sekadar kata, tetapi pengakuan bahwa kita semua adalah bagian dari keluarga besar bernama Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan