CILEGONSATU.ID – Memasuki satu tahun kepemimpinan Wali Kota Robinsar dan Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo, sektor budaya dan ekonomi kreatif di Cilegon menunjukkan perkembangan signifikan. Pendekatan pembangunan yang menempatkan budaya sebagai fondasi identitas kota sekaligus penggerak ekonomi mulai memperlihatkan hasil nyata.
Pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun ekosistem kreatif melalui festival budaya, literasi sejarah lokal, penguatan komunitas, hingga promosi event dalam skala nasional.
Peran Dewan Kebudayaan Kota Cilegon menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan ekosistem budaya. Sepanjang satu tahun terakhir, sejumlah program kebudayaan diluncurkan, seperti Muharram Culture Fest sebagai festival budaya religius, Riyaye Budaya dalam rangka Bulan Kebudayaan Nasional, Program literasi sejarah melalui Sanggar Belajar Al Bantani yang akan meluncurkan buku Tutur Cilegon berisi asal-usul nama wilayah.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni, menilai satu tahun kepemimpinan Robinsar–Fajar menghadirkan ruang baru bagi pertumbuhan ekosistem budaya.
“Selama satu tahun terakhir, kami merasakan dukungan pemerintah terhadap aktivitas kebudayaan semakin terbuka. Festival budaya, literasi sejarah lokal, hingga kolaborasi komunitas menjadi indikator bahwa budaya ditempatkan sebagai bagian penting pembangunan kota,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan identitas budaya juga berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi kreatif.
“Budaya tidak hanya soal pelestarian, tetapi juga ekonomi. Event budaya mampu menggerakkan UMKM, pelaku seni, hingga komunitas kreatif,” kata Ayatullah, Jumat (20/2/2026).
Momentum penting lainnya adalah masuknya Golok Day ke dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Capaian tersebut dinilai menjadi pengakuan nasional terhadap kekayaan budaya lokal sekaligus peluang promosi wisata.
Event budaya ini turut menjadi ruang promosi produk kreatif, kerajinan, serta kuliner lokal yang memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Ekosistem kreatif juga diperkuat melalui peran komunitas, seperti Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD) yang rutin menggelar diskusi kebudayaan bulanan, serta Gen Cilegon yang aktif memberikan pelatihan industri kreatif mulai dari fotografi, public speaking, hingga pengembangan konten digital.
Aktivitas komunitas tersebut dinilai menjadi fondasi penting pengembangan sumber daya manusia kreatif di Kota Cilegon.
Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, menegaskan bahwa pengembangan budaya dan ekonomi kreatif merupakan strategi diversifikasi ekonomi kota di tengah dominasi sektor industri.
“Kami ingin memastikan budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi baru. Festival budaya, penguatan komunitas, dan dukungan pelaku kreatif diarahkan agar mampu menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan pelaku kreatif menjadi kunci keberhasilan.
“Ekosistem kreatif akan tumbuh jika ruang kolaborasi terbuka. Karena itu, pemerintah hadir sebagai fasilitator agar komunitas dan pelaku kreatif dapat berkembang secara berkelanjutan,” kata Fajar.
Satu tahun kepemimpinan Robinsar–Fajar menunjukkan bahwa pembangunan berbasis budaya bukan sekadar narasi simbolik, tetapi strategi nyata membangun identitas kota sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.
Dengan hadirnya festival budaya, pengakuan event nasional, literasi sejarah lokal, serta penguatan komunitas kreatif, sektor budaya di Kota Cilegon kini mulai bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi alternatif.
Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma pembangunan kota industri menuju kota kreatif yang bertumpu pada kekuatan identitas, kreativitas, dan kolaborasi masyarakat. (Red)

Tinggalkan Balasan