CILEGONSATU.ID – Diskusi budaya Padang Wulan kembali menghadirkan refleksi spiritual tentang makna Ramadhan dan Lailatul Qadar. Dalam forum yang digelar Forum Wartawan Kebudayaan (Forward) bersama Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, salah satu pembicara, Gus Dayat mengajak peserta menelaah kembali makna filosofis di balik ibadah puasa.
Dalam paparannya, pembicara menyoroti adanya perbedaan pandangan ulama mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Ia menyebutkan bahwa sebagian ulama menilai malam kemuliaan itu bisa terjadi sejak awal Ramadhan, ada yang menafsirkan pada pertengahan bulan bertepatan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadhan, dan ada pula yang meyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir.
Menurutnya, perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa umat Islam diajak untuk terus meningkatkan ibadah sepanjang Ramadhan, bukan hanya menunggu momen tertentu.
Lebih jauh, ia juga mengajak peserta melihat Ramadhan secara filosofis. Ia mengibaratkan bulan Ramadhan yang merupakan bulan ke-9 dalam kalender hijriah seperti masa kehamilan manusia yang berlangsung selama sembilan bulan. Dalam analogi tersebut, manusia diibaratkan sedang “kembali ke dalam kandungan”, menjalani proses penyucian diri melalui puasa, menahan hawa nafsu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Ramadhan seolah menjadi proses penyucian sebelum manusia kembali kepada fitrahnya pada Idul Fitri,” ujar Gus Dayat dalam diskusi tersebut.
Dalam penjelasannya, pimpinan Majlis Preman Indonesia itu juga menyinggung unsur-unsur yang membentuk manusia, yakni jasad, akal, qalbi (hati), dan ruh. Ia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan proses penciptaan manusia dalam kandungan, di mana pada fase tertentu ruh ditiupkan ke dalam janin.
Dari perspektif itu, ia mencoba mengaitkan makna Lailatul Qadar sebagai momen spiritual yang menggambarkan turunnya cahaya atau rahmat Ilahi kepada manusia, sebagaimana ditiupkannya ruh dalam proses penciptaan manusia.
Diskusi Padang Wulan yang berlangsung santai namun reflektif tersebut menjadi ruang dialog antara budaya dan spiritualitas, sekaligus mengajak peserta untuk memaknai kembali perjalanan ibadah Ramadhan secara lebih mendalam. (Red)

Tinggalkan Balasan