Oleh: Arifin Al Bantani

 

Pada mulanya, semesta tidak diam.

Ia bergetar.

 

Sebelum manusia mengenal bilangan, hukum, dan definisi, ia terlebih dahulu berhadapan dengan bunyi—getaran yang menandai bahwa keberadaan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari suatu keteraturan yang bekerja. Musik, dalam pengertian paling purba, bukan seni hiburan, melainkan cara manusia memahami realitas.

Tujuh mode dalam tangga nada mayor—Ionian, Dorian, Phrygian, Lydian, Mixolydian, Aeolian, dan Locrian—menjadi contoh paling nyata bagaimana satu sistem dapat melahirkan beragam watak. Setiap mode menghadirkan nuansa yang berbeda: terang, kontemplatif, gelisah, melayang, membumi, murung, hingga rapuh. Pola yang sama terulang dalam harmonic minor dan melodic minor: selalu tujuh warna, tujuh kemungkinan ekspresi dalam satu kerangka oktaf. Secara musikal, ini adalah variasi; secara filosofis, ini adalah afirmasi bahwa kebenaran bersifat jamak namun tidak tercerai.

Urutan do–re–mi–fa–sol–la–si–do sering dipahami sebagai tangga yang menanjak. Namun secara ontologis, ia lebih tepat dibaca sebagai perjalanan melingkar: berangkat dari asal, mengalami perbedaan, lalu kembali ke titik semula dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Inilah metafora penciptaan itu sendiri—baik dalam kosmologi kuno maupun narasi modern tentang Big Bang. Awal semesta tidak dibayangkan sebagai keheningan mutlak, melainkan sebagai peristiwa getaran pertama, diferensiasi awal dari ketiadaan menuju keberadaan.

Gagasan ini menemukan bentuk filosofisnya dalam pemikiran Pythagoras. Melalui eksperimen dengan monochord, ia menemukan bahwa keindahan bunyi tunduk pada rasio matematis sederhana: 1:1, 2:1, 3:2. Dari sinilah lahir pembagian satu oktaf menjadi delapan nada—bukan karena tradisi, tetapi karena proporsi. Oktaf menjadi simbol kesatuan: titik di mana perbedaan kembali menyatu.

Bagi Pythagoras dan mazhabnya, musik, matematika, dan kosmologi bukanlah disiplin terpisah. Dengan kosmologi kuno, ia mengetahui adanya tujuh planet selain Bumi—tujuh benda langit yang bergerak dalam keteraturan. Gerak tersebut diyakini menghasilkan musica universalis, musik kosmik yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi dapat dipahami oleh rasio. Di sinilah musik menjadi prinsip epistemologis: sarana mengetahui yang tak kasatmata melalui harmoni.

Berabad-abad kemudian, Johannes Kepler menghidupkan kembali warisan ini dalam Harmonices Mundi (1619). Dengan pendekatan astronomi matematis, ia memetakan pergerakan planet ke dalam relasi interval musikal. Ketika ia menyatakan bahwa Bumi bergerak dalam rentang mi–fa–mi, ia tidak sedang mengklaim bunyi literal, melainkan menggambarkan perubahan kecepatan orbital dalam simbol musikal. Interval semiton itu menjadi metafora filosofis: ketegangan abadi antara stabilitas dan perubahan—ruang eksistensial tempat manusia hidup.

Namun pencarian harmoni tidak selalu berujung pada keselarasan. Pythagoras pernah mencoba menambahkan empat nada di luar sistem yang telah stabil. Hasilnya bukan keindahan, melainkan kekacauan. Dari kegagalan ini lahir pelajaran filsafat yang mendalam: harmoni tidak lahir dari penambahan tanpa batas, tetapi dari kesetiaan pada proporsi. Keteraturan memerlukan batas; keindahan justru muncul dari pembatasan yang tepat.

Angka tujuh, yang terus berulang dalam musik dan kosmologi, dengan demikian bukan sekadar simbol numerik. Ia adalah pola epistemologis—cara manusia membaca keteraturan semesta. Tujuh mode, tujuh planet, tujuh warna, tujuh hari—semuanya menunjukkan bahwa realitas bekerja dalam struktur yang dapat dikenali, meskipun tidak selalu dapat dijelaskan secara tuntas.

Dalam kerangka ini, musik tidak lagi dipahami sebagai objek estetika semata, melainkan sebagai model pengetahuan. Ia mengajarkan bahwa dunia tersusun atas relasi, rasio, dan keseimbangan. Mendengarkan musik berarti melatih akal untuk mengenali keteraturan yang tersembunyi di balik perubahan. Bermusik berarti berfilsafat: mengakui bahwa semesta tidak sepenuhnya dapat dikuasai oleh logika, tetapi dapat didekati melalui harmoni.

Maka setiap nada yang kita dengar sesungguhnya adalah gema pertanyaan paling tua umat manusia:

apakah semesta ini kebetulan, ataukah ia tersusun—dan terus bergerak—dalam sebuah nyanyian yang abadi?