Hassan bin Thabit dan Jihad Kreatif di Era Post-Truth
Oleh: Arifin Al Bantani
Dalam diskursus sejarah Islam klasik, narasi tentang heroisme kerap didominasi oleh denting pedang dan derap kuda di medan laga. Namun, sejarah mencatat sebuah preseden penting tentang kekuatan “lunak” (soft power) yang diperankan oleh Hassan bin Tsabit. Beliau bukan panglima perang dengan kecerdasan militer, melainkan seorang penyair dengan kecerdasan estetika yang mampu menggetarkan fondasi psikologis lawan melalui bait-bait syairnya. Di era post-truth saat ini, ketika informasi menjadi komoditas dan kebenaran sering kali terdistorsi, relevansi sosok Hassan bin Tsabit menjadi sangat krusial sebagai kompas bagi generasi digital.
Estetika sebagai Benteng Pertahanan
Hassan bin Tsabit hadir pada masa ketika puisi adalah puncak kebudayaan sekaligus alat propaganda politik yang paling efektif. Di tangan Hassan, puisi tidak lagi sekadar menjadi rima yang memuja kebanggaan suku atau asmara yang fana. Ia melakukan apa yang kita sebut hari ini sebagai “re-branding” peradaban.
Rasulullah SAW bahkan secara khusus menyediakan mimbar bagi Hassan di dalam masjid. Langkah ini merupakan kebijakan budaya yang visioner; sebuah pengakuan bahwa ruang sakral agama harus mampu mengakomodasi ekspresi seni. Seni, di tangan Hassan, adalah alat diplomasi sekaligus instrumen pembelaan nilai-nilai kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa serangan kata-kata yang destruktif tidak harus dijawab dengan kekerasan fisik, melainkan dengan kualitas narasi yang lebih beradab dan elegan.
Melawan Anarki Informasi
Jika kita menarik garis sejarah ke masa kini, posisi Hassan bin Tsabit adalah prototipe dari komunikator publik yang memiliki integritas moral. Saat ini, kita hidup dalam riuh rendah media sosial yang sering kali menjadi medan tempur hoaks dan pembunuhan karakter. Generasi masa kini—para content creator dan pemengaruh digital—sering kali terjebak dalam pengejaran angka vitalitas tanpa memedulikan substansi etik.
Hassan mengajarkan bahwa kreativitas harus memiliki jangkar nilai. Beliau tidak asal bersyair; setiap diksinya dipikirkan untuk menjaga martabat dan menyebarkan optimisme. Dalam konteks kebangsaan, kita membutuhkan lebih banyak “Hassan-Hassan modern” yang mampu mengemas nilai-nilai luhur menjadi konten yang menarik, edukatif, dan inspiratif. Literasi bukan lagi sebatas kemampuan membaca, melainkan kemampuan memproduksi narasi yang mencerahkan di tengah kegelapan disinformasi.
Menuju Peradaban Kata
Pelajaran terbesar dari Hassan bin Tsabit adalah bahwa kekuatan kata-kata mampu menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh senjata. Kebudayaan Islam yang besar tidak hanya dibangun dengan kekuasaan administratif, tetapi ditopang oleh tradisi intelektual dan seni yang luhur.
Bagi generasi sekarang, jihad tidak lagi identik dengan konfrontasi fisik. Jihad hari ini adalah perjuangan ide dan kreativitas. Menulis esai yang mencerahkan, membuat video yang menginspirasi, atau menciptakan ilustrasi yang menyuarakan keadilan adalah bentuk nyata dari melanjutkan estafet perjuangan Hassan bin Tsabit.
Pada akhirnya, sejarah akan selalu mencatat siapa yang menggunakan suaranya untuk membangun dan siapa yang menggunakannya untuk meruntuhkan. Seperti Hassan yang abadi melalui syairnya, sudah saatnya generasi digital Indonesia mengisi ruang siber dengan karya yang tidak hanya viral di bumi, tapi juga bernilai di langit.

Tinggalkan Balasan