Oleh: Baehaqi Rizal
Kala langit menitikkan rahasia,
dan bumi bergetar oleh rintik yang jatuh tergesa,
engkaulah yang pertama kucari
bukan payung, bukan atap,
melainkan sehelai pelindung sederhana
yang tahu arti bertahan.
Di balik plastik beningmu,
ada hangat yang tak sempat disebut cinta,
hanya kesetiaan tanpa kata,
menemaniku menembus badai,
menghadang dingin, menampung segala basah.
Tanpamu, aku takkan sanggup berlari,
setiap tetes hujan akan menjelma beban,
setiap langkah jadi gentar.
Engkau tak indah, tak pula megah,
tapi di tengah hujan yang menggila,
engkaulah rumahku sementara
tempat aku tetap melangkah,
meski dunia basah seluruhnya.
Cilegon, 8 November 2025

Tinggalkan Balasan