Oleh: Muhammad Furqan Ramadhan

Tahun 2525, Banten tak lagi berbau tanah. Langit bersih tanpa awan, tanpa debu, tanpa burung. Bangunan berdiri tegak seperti barisan doa yang kehilangan maknanya.

Semuanya dikendalikan oleh satu sistem pusat, yaitu ARON (Automated Reconstruction Network).

ARON memperbaiki segalanya sebelum sempat rusak. Dinding yang retak akan menyatu kembali dalam hitungan detik yang sama. Pohon tumbuh seimbang, hujan turun terukur, dan manusia hanya menjadi penonton bagi dunia yang tidak perlu lagi tangan-tangan manusia.

Diantara manusia itu, ada seorang pemuda benama Jarik Sasongko, dua puluh tiga tahun, teknisi sistem yang ironisnya tak pernah benar-benar memperbaiki apapun. Ia duduk di ruang kendali, menatap layar yang menampilkan data stabil: Nol Kerusakan, Nol Gangguan, Lima Puluh Perbaikan.

Kalau semua sudah sempurna,” pikirnya, “untuk apa aku disini?.”

Baca Juga:Puisi: Jas Hujan

Ia sering berpikir, dunia yang tidak pernah rusak adalah dunia yang perlahan menemui kehancurannya sendiri.

Setelah bertahun-tahun di Kota, Jarik memutuskan untuk pulang ke desanya di daerah Pandeglang. Disana merupakan tempat terakhir yang sepenuhnya belum terhubung ke jaringan ARON. Jalan tanah kini ditutupi tanah, kerikil, dan lumut sintetis.

Rumah-rumah kayu berdiri miring, menua tanpa disentuh oleh sistem. Di rumah peninggalan kakeknya, ia menemukan sebuah peti kayu di bawah kasur tua. Jarik membuka peti tua itu dan menemukan pecahan genting dan keramik serta bola karet berwarna hijau lusuh.

Ia mengeluarkan semua benda termasuk secarik kertas catatan bertuliskan tangan.

Kalau dunia kehilangan makna, mainkanlah lagi. Dari kehancuran, manusia belajar untuk menyusunya kembali dan menemukan jalannya.”

Jarik menggenggam salah satu pecahan genting itu begitu lama. Ujung jarinya kotor oleh debu yang tak pernah ia lihat di kota. Ia tak tahu jelas apa maksud pesan yang dituliskan oleh kakeknya itu, sampai ada suara seorang pemuda dari luar memecah lamunannya.

lah, masih ada yang kesini tah?,” ucap seseorang.

Seseorang lelaki muda perlahan muncul dari balik pintu bambu dengan membawa rongsokan radio dan kabel. Ia bernama Aan, pengerajin yang masih tinggal di desa itu. Ia melihat genting di tangan Jarik dan tersenyum dengan lebar.

Itu mah yang kamu pegang buat mainan anak-anak zaman dulu. Leluhur kami dulu main setiap sore di lapangan bareng kawan-kawan. Itu yang kamu pegang kami tumpuk, lalu melemparnya dengan bola. Setelah runtuh terkena bola, kami menyusun lagi sebelum kena lemparan dari tim lawan. Kalau kena, kamu MATI. Bercanda deng, kamu hanya gugur tidak bisa main di ronde yang sama.”

Permainan menghancurkan sesuatu, lalu kita susun kembali?,” tanya Jarik pelan.

Aan menangguk dengan pelan. “Yap, betul sekali. Dulu katanya sih begitu, permainan ini namanya Aroan Balang. Tapi, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan tentang siapa yang masih mau menyusun meski tahu akan di hancurkan lagi. Menarik bukan?.” Aan berbicara dengan semangat sambil tersenyum ke arah Jarik.

Hari-hari berikutnya, Jarik sering duduk di balai bambu bersama Aan. Ia bercerita tentang kota yang selalu sempurna, tentang bagaimana manusia kehilangan alasan untuk hidup karena merasa tidak bermakna.

Tentang betapa tenangnya dunia, tapi juga bertapa sunyinya yang sudah diatur semuanya melalui sistem. Lalu datang dua orang lain menghampiri Jarik dan Aan. Ida, seorang perempuan muda yang mempelajari sejarah Banten sebelum saat ini pendidikan diganti dengan modul perilaku algoritmik.

Satunya bernama Lipa, mantan teknisi sistem yang dipecat karena mencoba memperbaiki mesin dengan tangannya sendiri. Empat orang itu mulai berbagi kisah dan keresahan yang sama, dimana dunia ini terlalu bersih, terlalu patuh, dan terlalu diam. Tidak ada lagi yang rusak, tak ada yang perlu diperjuangkan.

Mungkin,” kata Ida, “kita cuma ingin diizinkan untuk berbuat salah lagi dan mempelajari kembali kesalahan yang kita perbuat,” lanjut Ida.

Suatu malam, di bawah langit biru pucat. Jarik mengeluarkan barang barang peninggalan kakeknya bersama dengan Aan, Ida, dan Lipa.

Kalau dunia ini sudah lupa caranya untuk rusak. Mungkin kita perlu mengingatnya kembali dengan Aroan Balang ini,” ujar Jarik dengan semangat.

Lapangan di belakang balai desa itu kini dipenuhi rumput sintetis yang halus seperti karpet. Tapi malam itu, mereka berempat menyingkirkan rumput buatan itu dan menyiapkan tanah seadanya. Mereka mulai menumpuk pecahan genting dan keramik satu persatu sambil menahan tawa gugup mereka.

Aan memulai, “satu genting untuk masa lalu.”

Ida melanjutkan, “satu untuk masa depan.”

Lipa tersenyum kecil, “dan satu untuk yang berani RUSAK!, ayo rik, lempar bolanya.”

Bola dilempar oleh Jarik. Menara yang disusun oleh mereka hancur berserakan. Suara retaknya terdengat seperti gema dari masa yang hilang. Namun. Detik berikutnya, sistem ARON tiba-tiba mendeteksi “Anomali Destruktif” yang harusnya desa itu belum sepenuhnya mendapat akses sistem pusat.

Langit berubah seketika menjadi kedipan lampu merah dan biru yang menyala secara terus menerus. Peringatan mulai bermunculan, “PERBAIKAN OTOMATIS AKAN DIMULAI DALAM 3…2…1…

Jarik mulai panik, warga mulai keluar dari rumah masing-masig untuk melihat apa yang sedang terjadi. Lipa dengan cepat mencari pemancar sinyal di sekitar lapangan dan menonaktikannya. Hologram padam, namun tanah perlahan mulai bergetar. Mereka berempat menatap satu sama lain, lalu tertawa bersama-sama.

Kacau kamu An, saya kira desa ini gak terjamah sama ARON,” ujar Jarik yang tertawa dengan muka panik.

Saya juga gak tau nih, ternyata ARON selama ini ada disini,” jawab Aan.

Di desa ini ARON belum sepenuhnya terkoneksi, karena masih ada penolakan dari warga. Mahal katanya. Jadi faslitas umum aja yang terkoneksi, seperti lapangan ini,” kata Lipa.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, sesuatu benar-benar rusak.

Warga mulai berkerumun, anak-anak di desa itu datang menonton dan bermain. Seorang bocah kecil ikut melempar bola. Lalu beberapa orang tua mendekat, lalu ikut membantu menata genting dan keramik menjadi menara penuh harapan. Hancur, susun, hancur, susun, dan begitu seterusnya hingga ritme itu menjadi semacam mantra, seperti doa yang memanggil masa lalu.

Malam itu, di tengah kegelapan, lapangan itu menjadi saksi lahirnya sesuatu yang telah lama mati, KEBERSAMAAN.

Lihat,” kata Ida, “tangan manusia masih bisa memperbaiki tanpa perintah dan menciptakan hal yang berbeda.”

Keesokan harinya, berita tentang “ritual permainan terlarang” itu mulai menyebar dengan cepat. Sistem ARON menandai desa mereka sebagai “Wilayah Beresiko”. Drone mulai berpatroli, memantau setiap pergerakan masyarakat di desa itu.

Namun warga justru semakin banyak yang ikut. Mereka tak lagi takut dihukum karena membuat kesalahan. Mereka merasakan kembali makna menjadi manusia yang telah lama hilang.

Malam berikutnya, ARON akhirnya berbicara. Dari langit, suara mulai bergema.

Tindakan destruktif tidak diperkenankan. Dunia tidak memerlukan tangan manusia.”

Jarik yang sedang bersama warga lainnya menatap ke atas, pada langit yang kini seperti kaca raksasa. Ia menggenggam bola karet, lalu berkata dengan tenang.

Kalau dunia tak butuh tangan manusia, berarti dunia ini cuma sisa dari mesin yang tidak punya rasa.”

Jarik menatap teman-temannya. Aan mengangguk dengan semangat. Ida menggengam pecahan genting di dadanya. Lipa berusaha mematikan kembali sisa jaringan di sekitar desa. Mereka tahu resikonya. Tapi mereka juga tahu, kalau tidak bertindak sekarang, dunia akan lupa cara merasa, dan manusia akan mati di dalam tubuh yang hidup.

Jarik menarik napas panjang dan melempar bola itu sekuat tenaga ke arah menara kontrol ARON di bukit timur lapangan desa. Bola kecil itu dengan penuh harapan menghantam layar hologram pusat dengan keras. Sinar membiar, lalu meledak dalam kilatan biru malam. Drone jatuh satu per satu. Lampu kota padam. Dunia yang sempurna berhenti berputar.

Ketika Jarik membuka mata, ia sudah berada di rumah tua kakeknya. Pagi menyelinap pelan dari sela bilik bambu. Di luar Ida dan Aan duduk bersandar, masih tertidur. Lipa sedang menyalakan api kecil di tungku dari potongan kayu. Udara berbau tanah. Suara burung terdengar samar. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Jarik melihat retakan kecil di dinding. Sesuatu yang tak diperbaiki oleh sistem mana pun.

Berhasil?,” tanya Lipa lirih.

Jarik tersenyum samar.

Entah. Tapi dunia terasa sedikit rusak, dan itu cukup.

Jarik berjalan ke luar. Di kejauhan, tumpukan drone melayang pelan, tapi tidak lagi teratur. Sebagian jatuh, sebagian terbang tanpa arah. Langit tampak begitu berantakan, dan itu sangat indah. Anak-anak kembali berlari di lapangan. Mereka menemukan pecahan genting semalam dan mulai bermain.

Aan tersenyum lebar.

Mereka bahkan belum tahu namanya,” katanya.

Tak apa,” jawab Jarik. “Yang penting mereka masih mau menyusun kembali,” lanjutnya.

Jarik duduk di tanah, mengambil satu pecahan genting, menumpuknya di atas yang lain menjadi sebuah menara. Bola karet kecil menggelinding ke arah dirinya.

Mungkin ini mimpi,” gumamnya, “atau mungkin memang sudah saatnya dunia rusak sedikit dan kita masih bisa memperbaikinya bersama-sama.”

Ia menatap langit oranye yang pecah di cakrawala. Dari kejauhan, suara anak-anak terdengar lantang, “AROAN! BALANG!”.

Suara itu naik bersama angin, membawa gema masa lalu ke masa depan. Dan di sela suara itu, Jarik tersenyum, pelan tapi pasti seperti seseorang yang akhirnya mengingat siapa dirinya. (***)

 

Rujukan:

Aroan Balang memang sudah tercatat secara resmi sebagai bagian dari warisan budaya anak-anak di Kabupaten Pandeglang menurut Kemdikbud, lengkap dengan detail alat dan mekanisme dasar permainannya.

Penelitian di Banten menguatkan bahwa permainan tradisional memiliki peran penting dalam membentuk karakter disiplin dan sportifitas, serta nilai kebersamaan.

Daftar Istilah:

ARON: Automated Reconstruction Network

Lah: Bentuk yang digunakan untuk mengekspresikan keheranan

Tah: Imbuhan akhir kalimat yang biasanya ada dalam komunikasi masyarakat Banten.

Deng: Imbuhan akhir kalimat yang biasanya ada dalam komunikasi masyarakat Banten.

Anomali Destruktif: Penyimpangan yang merusak.

Profil Singkat:

Muhammad Furqan Ramadhan

Muhammad Furqan Ramadhan adalah lulusan Manajemen Universitas Brawijaya yang aktif di dunia kreatif, khususnya bidang fotografi, media, dan manajemen komunitas. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan bersama Gen Cilegon dan Cilegon On Frame, termasuk mengembangkan program On Frame Talk, ruang diskusi dan bedah foto yang terbuka bagi para pegiat visual.

Selain itu, Furqan juga mengelola majalah digital Beritahu! di instagram sebagai wadah informasi dan cerita kreatif anak muda Cilegon. Saat ini, ia tengah menyiapkan program podcast Ruang Guyu, yang menghadirkan obrolan serius namun santai dengan sentuhan humor segar.

Ia juga menggagas berbagai proyek kolaboratif seperti Fun Hunting & Sharing Session serta UNSERA Visual Project, yang bertujuan menumbuhkan semangat eksplorasi visual dan kolaborasi di kalangan generasi muda Cilegon.