Oleh: Rizal Arif Baihaqi – Ketua Bidang Publikasi dan Promosi Dewan Kebudayaan Kota Cilegon
Ada hal menarik yang tersimpan dalam kegiatan yang digelar Tim Kebendaan Dewan Kebudayaan Kota Cilegon pada Senin, 25 Agustus 2025. Kala itu, menjelang senja sekitar pukul 17.30 WIB, rombongan kecil berangkat dari rumah Kang Mus, sang juru kunci atau kuncen Makam Ki Lurah Ro’uf Jayalaksana.
Hujan gerimis turun pelan, seolah ikut memberi tabir sakral pada perjalanan singkat itu.
Kehadiran kasepuhan, tokoh masyarakat, para pemuda setempat, hingga sejumlah anggota Forum Wartawan Kebudayaan, membuat langkah menuju kompleks pemakaman terasa khidmat. Sesampainya di lokasi, beberapa pemuda sudah terlihat membersihkan area makam.
Misteri Gerobog Panjang Jimat di Pusara Ki Lurah Ro’uf Jayalaksana
Agenda diawali dengan ziarah ke pusara Ki Lurah Ro’uf Jayalaksana, sosok yang diyakini sebagai pejabat pertama di era Kesultanan Banten yang diberi amanah memimpin wilayah Cilegon.
Setelah doa bersama, perhatian tertuju pada sebuah tempat penyimpanan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah: gerobak jati tanpa paku dan tanpa lem, semua bagiannya, termasuk roda dibuat dan disambung dengan kayu yang berfungsi sebagai klem atau pengikat bagian-bagian tertentu. Orang-orang setempat menyebutnya gerobak lengek atau Gerobog Panjang Jimat.
Dulu, para leluhur memanfaatkannya untuk menyimpan benda-benda berharga dalam perjalanan jauh.
Konon, menurut cerita lisan, Gerobog Panjang Jimat ini ditarik dari Pantai disekitar Bojonegara oleh sosok Nyai Nyi Mas Bernok menggunakan rambutnya sendiri. Keajaiban itu membuat benda ini tak mampu digerakkan oleh siapa pun selain dirinya.
Tak heran jika pusaka dan barang peninggalan di dalamnya diperkirakan berasal dari masa yang sebaya dengan Kesultanan Banten.
Saat gerobog dibuka, tersingkaplah isi yang beragam, kendi berukir prasasti tentang alam dan persawahan, keramik piring dan mangkuk besar khas Cina kuno, bilah pusaka berupa golok, pedang, tombak, hingga jimat berupa kulit macan.
Kitab Kuno Berisi Gabungan Beberapa Kitab
Dan yang paling menyita perhatian adalah naskah kuno atau kitab yang diyakini merupakan gabungan beberapa kitab dari zaman Kesultanan Banten.
Kitab itu disimpan dalam sampul berwarna hitam menyerupai kulit. Lembarnya memperlihatkan ciri kertas Eropa yang didalamnya terdapat watermark yang menandai produksi Inggris, Prancis, atau Belanda.
Tulisan di dalamnya dibuat dengan tinta hitam dan merah, yang diyakini berasal dari bahan-bahan alami seperti getah pohon atau tinta cumi.
Terbuka Kembali Setelah 26 Tahun di Tanggal Yang Sama
Yang membuat merinding adalah catatan kecil kitab tersebut terakhir kali dibaca pada 25 Agustus 1999. Dan kini, tepat 26 tahun kemudian, pada 25 Agustus 2025, kitab itu kembali disentuh dan dipelajari oleh Tim Kebendaan. Seakan waktu memilih untuk berputar pada tanggal yang sama, menghadirkan pesan tersembunyi dari para leluhur.
Dari pembacaan singkat, diketahui kitab tersebut ditulis pada bulan Rabiul Awal atau Mulud. Hal ini memperkuat tradisi masyarakat Banten yang menganggap bulan Mulud sebagai hari raya rakyat, saat orang-orang berkumpul, beribadah, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan.
Di kompleks pemakaman itu pula terdapat makam Nyai Nyi Mas Bernok, yang dipercaya sebagai ibu dari Tubagus Buang. Jejak-jejak perempuan kuat ini meneguhkan kisah bahwa peradaban Banten bukan hanya dibangun oleh laki-laki, melainkan juga oleh tokoh perempuan yang berjasa menjaga pusaka.
Agenda penjamasan pusaka dan pembersihan naskah kuno ini dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu, 30 Agustus 2025.
Namun lebih dari sekadar ritual, ia adalah pengingat, bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga hidup dalam benda, pusaka, manuskrip, dan cerita lisan yang diwariskan turun-temurun.
Di bawah gerimis senja, di antara doa kasepuhan dan semangat pemuda, kisah itu berulang kembali. Sebuah penuturan bahwa Cilegon punya akar sejarah yang dalam, dan pusaka leluhur bukan sekadar benda mati, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu, hari ini, dan masa depan. (***)

Tinggalkan Balasan