CILEGONSATU.ID – Di balik citranya sebagai Kota Baja, Cilegon menyimpan bara api kebudayaan yang tak pernah padam. Di tengah tarik ulur wacana pembangunan museum yang tak kunjung terealisasi, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC) memilih jalur berbeda dengan bergerak cepat dan bekerja nyata.
DKKC hadir memukau di Festival Budaya Kota Tangerang dengan menampilkan beragam benda pusaka dan artefak bersejarah Cilegon, koleksi yang selama ini dirawat dengan ketekunan dan penuh komitmen. Keberanian “membawa keluar sejarah” ini menjadi bukti bahwa pelestarian tidak boleh menunggu fasilitas permanen.
Konservasi Tak Bisa Menunggu
Aksi ini dipimpin oleh Saiful Iskandar, Ketua Bidang Warisan Kebendaan DKKC. Ia menegaskan bahwa pelestarian adalah kewajiban yang harus berjalan terus-menerus.
“Kami tidak bisa hanya diam menanti. Warisan sejarah adalah nafas identitas kota. Tugas kami memastikan benda-benda ini tetap terawat, dikaji, dan yang terpenting, dilihat oleh masyarakat luas,” ujar Saiful.
Pameran Nomaden: Edukatif dan Menginspirasi Generasi Muda
Pameran yang disajikan DKKC bukan sekadar deretan pusaka. Setiap benda dilengkapi narasi hasil kajian mendalam, menghadirkan pengalaman edukatif yang menarik minat pengunjung, terutama generasi muda yang haus pengetahuan sejarah.
“Melalui pameran nomaden seperti ini, kami membuktikan bahwa benda bersejarah Cilegon layak mendapat panggung. Ini cara kami untuk terus mengingatkan bahwa Kota Baja membutuhkan museum yang memadai. Semangat pelestarian kami tidak akan pernah padam,” tegas Saiful Iskandar.
Sejarah yang Datang Menyapa Publik
Kehadiran DKKC di Tangerang berhasil mencuri perhatian dan menjadi duta budaya Cilegon yang membanggakan. DKKC sekali lagi menegaskan komitmennya, jika museum belum hadir, maka sejarah yang akan bergerak keluar untuk menyapa masyarakat, mendidik publik, dan menjaga ingatan kolektif tetap hidup. (Red)

Tinggalkan Balasan