Oleh: Rizal Arif Baihaqi

lanjutan dari artikel berjudul Dari Titik Nol ke Titik Nyala: Lahirnya Kiblat Baru Kebudayaan di Cilegon

 

Ketika Cilegon meneguhkan langkahnya sebagai kiblat baru kebudayaan di Banten, kota ini tidak berjalan tanpa arah. Sebaliknya, ia merawat jejak masa lalu sebagai kompas untuk masa depan. Dan pada tahun 2026, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon mencoba menghadirkan kembali roh persatuan itu melalui sebuah peristiwa budaya yang sarat makna, Muharram Culture Fest 2026.

Jika masa lalu Banten pernah disatukan oleh gelora perlawanan pada Geger Cilegon, maka hari ini Cilegon mencoba menyatukan Banten melalui ritual kebudayaan, lebih tenang, lebih damai, namun tetap penuh energi simbolik.

Delapan Sumber Air: Simbol Penjuru, Simbol Persatuan

Dalam tradisi Nusantara, air selalu menjadi lambang kehidupan sekaligus penghubung antar wilayah. Air mengalir melewati batas-batas administratif, mengikat desa dengan desa, dan menyimpan ingatan kolektif tentang sejarah suatu daerah.

Dengan spirit itu, DKKC merancang sebuah ritual pembuka yang tidak hanya artistik, tetapi juga filosofis, dengan mengambil air dari delapan titik sumber di delapan kecamatan Kota Cilegon yang diposisikan sebagai representasi:

Delapan kabupaten/kota di Banten, atau

Delapan penjuru mata angin, arah yang melambangkan keluasan dan keterhubungan.

Air dari Cibeber, Cilegon, Ciwandan, Citangkil, Pulomerak, Purwakarta, Jombang, hingga Grogol, masing-masing akan diambil oleh perwakilan budaya, karuhun kampung, atau tokoh adat yang dipilih secara khusus.

Mereka akan membawa kendi atau wadah tradisional, simbol kesederhanaan sekaligus kontinuitas.

Ritual Penyatuan: Melahirkan Satu Air Banten

Pada malam pembukaan Muharram Culture Fest 2026, delapan air itu akan dibawa ke panggung utama dalam prosesi khidmat.

Diiringi lantunan doa, tabuhan tradisi, dan langkah-langkah para pembawa obor, air tersebut akan disatukan ke dalam satu bejana besar.

Tidak sekadar menyatukan air, ritual ini merupakan metafora menyatukan:

Ingatan sejarah;

Identitas lokal;

Semangat kebangsaan; dan

Keragaman budaya Cilegon–Banten.

Ketika delapan air itu bertemu menjadi satu, ia menjadi lambang bahwa Cilegon tidak hanya berada di tengah-tengah dinamika Banten, tetapi juga menjadi simpul yang menyatukan kembali jalinan kebudayaan yang sempat tercecer oleh modernisasi, industrialisasi, bahkan oleh gelombang sejarah itu sendiri.

Meneladani Sejarah, Menyulam Masa Depan

Ritual penyatuan air bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap jejak lama:

Anyer sebagai titik nol peradaban kolonial;

Krakatau sebagai letusan yang mengubah peta;

Cilegon sebagai panggung perlawanan yang menyatukan rakyat Banten; dan

DKKC sebagai penghubung generasi masa kini dengan narasi masa silam.

Dalam konteks Muharram, bulan kelahiran hijrah, bulan pembaruan tekad, festival ini menjadi momentum Banten untuk berhijrah secara budaya, dari sekadar ingatan sejarah menuju tindakan nyata merawat peradaban.

Cilegon Sebagai Titik Awal Peradaban Baru Banten

Dengan ritual ini, Cilegon tidak sedang menciptakan sejarah baru dari nol. Ia sedang menyambung napas sejarah yang pernah ada, menghidupkan kembali semangat yang dahulu menyatukan masyarakat Banten dalam solidaritas dan keberanian.

Jika dahulu Cilegon menjadi titik nyala perlawanan terhadap penjajah, maka melalui Muharram Culture Festival 2026, kota ini mencoba menjadi titik nyala persatuan budaya.

Air yang disatukan itu menjadi simbol bahwa:

Banten lahir dari keragaman;

Berdiri di atas keharmonisan; dan

Mengalir menuju masa depan yang lebih beradab.

Dan Cilegon, sekali lagi, berdiri di pusat arus itu, bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga perjalanan kebudayaan. (*)