Di antara dinamika dan riuh rendah dunia jurnalistik Cilegon, ada satu nama yang selalu hadir dengan cara yang paling sederhana tetapi paling membekas.
Supriyadi, atau yang akrab disapa Ucup.
Sebagian lain memanggilnya Supri Cilik. Kini, panggilan itu tinggal gema. Supriyadi telah berpulang setelah berjuang menghadapi penyakitnya, meninggalkan jejak panjang tentang ketulusan, kedermawanan, dan solidaritas yang sering kali lebih lantang daripada kata-kata.
Sosok Apa Adanya yang Tak Pernah Berhenti Bergerak
Bagi para wartawan Cilegon, Supriyadi bukan hanya rekan kerja. Ia adalah energi kecil yang selalu menjaga agar roda kebersamaan tetap berputar. Tubuhnya mungkin mungil, tetapi jiwanya lapang. Ia dikenal apa adanya, bukan tipe yang suka menonjolkan diri, namun selalu hadir di saat paling dibutuhkan.
Di balik kepribadian yang sederhana itu, ada kegigihan yang jarang diperbincangkan.
Dalam setiap liputan, dalam setiap agenda, dalam setiap kegiatan sosial, Supriyadi selalu mengambil bagian, sekalipun kondisi fisiknya sering tidak bersahabat, namun tak pernah membuatnya berhenti.
“Kalau Ucup sudah datang, pasti suasana jadi cair,” ujar beberapa wartawan yang mengenalnya.
Kehadirannya bukan sekadar fisik, melainkan semangat. Semangat yang tak dibuat-buat.
Dermawan yang Tak Pernah Menghitung Balasan
Supriyadi sering sibuk mengurus kepentingan orang lain. Kadang ia mengabaikan dirinya sendiri. Ia punya kebiasaan kecil yang tidak semua orang tahu, menaruh sedikit uang di saku kanan khusus untuk siapa saja yang “membutuhkan secara mendadak”.
Baik itu teman wartawan, pedagang kecil, atau warga yang dijumpainya dalam liputan.
“Beliau itu orang baik, dermawan,” kenang banyak kolega. Kebaikan itu tidak pernah diumumkan, tidak pernah dipamerkan. Ia memberi seperti orang yang menyiram tanaman, tidak perlu ada yang tahu, cukup tanaman itu hidup.
Membawa Persaudaraan ke Mana Pun Ia Pergi
Sebagai Wakil Bendahara PWI Cilegon, Supriyadi adalah salah satu sosok yang paling aktif menjembatani solidaritas antarwartawan.
Ia menjadi penghubung sekaligus peredam, menjadi teman curhat maupun teman bercanda. Banyak kegiatan sosial PWI yang berjalan mulus karena ia salah satu yang menggerakkannya.
Ketua PWI Cilegon, Ahmad Fauzi Chan, merasakan betul kehilangan itu.
“Beliau bukan hanya rekan kerja, tapi saudara bagi kami semua. Sosoknya aktif, peduli, dan selalu mengutamakan persahabatan. PWI Cilegon sangat kehilangan figur seperti almarhum Supriyadi.”
Dalam dunia yang kerap disibukkan ego, Supriyadi justru hadir dengan ketulusan yang menyatukan.
Di Rumah Duka: Gelombang Doa dan Kenangan
Pagi itu, di Link Cikerut RT 001 RW 07, Karang Asem, Cibeber, rumah duka dipenuhi rekan wartawan, tetangga, tokoh masyarakat, dan mereka yang pernah merasakan sentuhan kebaikannya.
Tidak ada yang datang sekadar “berkunjung”, semua datang karena merasa kehilangan.
Suasana haru mengiringi prosesi pemakaman di Makam Balung. Di antara lantunan doa, orang-orang saling bercerita tentang kebaikan kecil yang pernah dilakukan Supriyadi. Kebaikan yang kini justru terasa besar karena pemiliknya telah pergi.
Warisan yang Tak Berwujud, Tetapi Menghidupkan
Ada orang-orang yang meninggalkan warisan berupa harta. Supriyadi meninggalkan sesuatu yang lebih bernilai, yaitu keteladanan. Tentang bagaimana menjadi manusia yang gigih meski saban hari berperang dengan keterbatasan.
Tentang bagaimana tetap murah hati meski hidup tidak selalu lapang. Tentang bagaimana menjaga solidaritas tanpa perlu sorotan.
Ia pergi sebagai wartawan. Tetapi ia dikenang sebagai saudara, sahabat, dan manusia baik yang membuat dunia sekitarnya terasa sedikit lebih hangat.
Selamat jalan, Supriyadi.
Jejakmu mungkin kecil, tapi cahaya kebaikanmu tak akan padam.
Cilegon, 25 November 2025.

Tinggalkan Balasan