CILEGONSATU.ID – Ketika seorang warga dinyatakan hilang di hutan, kebun, atau wilayah perkampungan, masyarakat desa di berbagai daerah Nusantara masih mempertahankan sebuah tradisi penting bernama ritual tetabuhan.
Tradisi ini dilakukan sebagai ikhtiar batin untuk membantu memanggil orang hilang agar kembali, sekaligus sebagai simbol solidaritas warga.
Apa Itu Ritual Tetabuhan?
Ritual tetabuhan adalah kegiatan menabuh alat ritmis, baik alat musik tradisional maupun alat-alat rumah tangga dengan pola tertentu yang berulang.
Suaranya dipercaya dapat menjadi penanda arah bagi orang hilang, membuka “pagar gaib” atau halangan batin yang membuat seseorang tersesat, mengusir energi negatif di sekitar wilayah pencarian, dan menjadi panggilan bahwa keluarga dan warga sedang menunggunya pulang.
Ritual ini biasanya dilakukan menjelang malam hingga tengah malam, terutama ketika upaya pencarian belum menunjukkan hasil.
Bentuk-Bentuk Tetabuhan
Setiap daerah memiliki gaya dan peralatan yang berbeda, namun semua memiliki tujuan yang sama, memanggil dan membuka jalan pulang.
1. Bedug dan Rebana
Bedug masjid atau surau dipukul berirama kuat untuk menghasilkan suara bergema yang mampu menjangkau area jauh. Di beberapa daerah, rebana juga digunakan dengan lantunan doa.
2. Kentongan Bambu
Kentongan bambu dipukul dengan ritme teratur dan lambat: tok… tok… tok…
Irama ini dianggap sebagai sinyal untuk membimbing orang hilang menemukan arah pulang.
3. Tetabuhan di Perbatasan Desa
Warga ditempatkan di beberapa titik batas desa. Mereka menabuh alat secara bergantian, sehingga suara saling sahut-menyahut dan memantul ke berbagai arah.
4. Tetabuhan dari Alat-Alat Dapur dan Rumah Tangga
Salah satu ciri khas tradisi desa adalah memanfaatkan apa pun yang tersedia. Dalam banyak kasus, saat situasi darurat, warga menggunakan:
• Panci dan Wajan
Dihentakkan menggunakan kayu atau sendok besar untuk menghasilkan bunyi berdentang keras. Suara metalik dari wajan dipercaya dapat menembus hutan atau lembah.
• Tutup Panci (Tutup “Dandang”)
Tutup panci sering dipukul seperti gong kecil. Suaranya panjang dan menggema, cocok digunakan malam hari.
• Ember dan Jerigen Plastik
Ditepuk atau dipukul dengan ritme tertentu sehingga menghasilkan suara “dung-dung” yang stabil. Alat ini ringan dan mudah dibawa ke titik-titik pencarian.
• Botol Kaca atau Kaleng Bekas
Diguncang atau dipukul untuk memunculkan suara nyaring. Dalam tradisi tertentu, suara kaleng dipercaya dapat mengusir makhluk halus penjaga hutan.
• Lesung Kayu (Alu-Lumpang Tradisional)
Sering dipukul bersama-sama oleh beberapa warga perempuan sebagai simbol pemanggilan roh penjaga desa agar membantu pencarian.
Dengan memanfaatkan alat dapur dan rumah tangga, seluruh warga termasuk ibu rumah tangga, remaja, hingga lansia, bisa ikut berperan dalam ritual. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial dalam situasi darurat.
Makna Sosial dan Spiritual
Ritual tetabuhan bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga ikatan sosial yang kuat, seperti:
• Solidaritas warga: Semua warga merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan sesamanya.
• Penanda darurat: Bunyi tabuhan memberi tahu seluruh kampung bahwa sedang ada pencarian orang hilang.
• Menenangkan keluarga: Suara tabuhan memberi harapan dan menunjukkan bahwa seluruh desa turut membantu.
• Doa kolektif: Tabuhan menjadi bentuk doa bersama agar orang hilang segera ditemukan.
Tetabuhan di Era Modern
Meski kini pencarian dipimpin oleh tim profesional seperti BASARNAS, masyarakat adat tetap mempertahankan ritual ini sebagai bagian dari nilai budaya. Teknologi bekerja di lapangan, sementara tetabuhan menjadi ikhtiar batin yang tidak tergantikan dalam budaya desa.
Seperti yang terlihat di Lebak Gede, Pulomerak, Kota Cilegon, yang menjalankan tradisi turun-temurun saat membantu pencarian Harini (60), yang hilang ketika mencari rumput sejak Rabu siang.
Dengan sejumlah peralatan dapur dan rumah tangga yang ditabuh bersama, suara keras dipanjatkan sebagai doa dan penanda. Sebuah cara lama yang dipercaya membuka jalan dan memanggil pulang yang hilang. (Red)

Tinggalkan Balasan