(Menanti Panggung Gagasan Pemuda Cilegon di Hari Pahlawan 2025)
Penulis: Rizal Arif Baihaqi
Ada satu seruan yang terdengar sederhana tapi penuh makna. “Aje tue-tue, sing enom bae!”. Jangan nunggu tua, yang muda dulu aja!
Ungkapan dalam bahasa Cilegon ini kini menjadi semangat yang menular menjelang digelarnya FOLKALCER Vol.5, kolaborasi antara folkalcer.id dan Gen Cilegon, yang akan berlangsung Senin, 10 November 2025 di Paradiso Garden Coffee.
Tepat di Hari Pahlawan, forum ini seolah menegaskan, bahwa kepahlawanan bukanlah kenangan masa lalu, melainkan semangat yang harus terus hidup di generasi muda hari ini.
Dengan tema “Pemuda Sebagai Pahlawan Masa Kini Dalam Pembangunan Kota Cilegon,” kegiatan ini akan menghadirkan tiga sosok muda, M. Shidqi Andrezha, S.I.Kom dan Yamanan, S.H (Anggota DPRD Cilegon), serta Rizki P. Sandika, S.H, tokoh muda yang aktif di berbagai kegiatan sosial.
Menjadi Pahlawan di Zaman yang Berbeda
Cilegon dikenal sebagai kota industri, tapi juga kota dengan denyut budaya dan solidaritas yang kuat. Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang cepat, muncul pertanyaan penting.
Apa arti menjadi pahlawan di masa kini?
Para penyelenggara FOLKALCER percaya, pahlawan zaman ini tidak lagi selalu berpedang atau berperang, tapi berpikir dan berbuat. Mereka yang mau turun tangan menyelesaikan persoalan di sekitar, dari pendidikan, lingkungan, hingga budaya, adalah pahlawan dalam konteks baru.
“Jangan tunggu tua untuk jadi pahlawan,” begitu bunyi ajakan yang menyertai publikasi acara ini. Pesan itu mengandung makna yang tajam. Bahwa semangat kepahlawanan harus mulai diwujudkan sejak muda, sejak energi dan idealisme masih menyala.
Ruang Santai, Gagasan Serius
Berbeda dengan forum formal, FOLKALCER Vol.5 akan dikemas secara santai di ruang terbuka. Tempat di mana ide bisa mengalir bebas, tanpa sekat jabatan atau status sosial. Para peserta diajak bukan hanya mendengar, tapi juga berbagi gagasan tentang bagaimana pemuda bisa ikut serta dalam pembangunan Cilegon.
Menciptakan ruang kreatif, memperkuat kolaborasi antar-komunitas, hingga menumbuhkan kesadaran sosial baru di tengah masyarakat urban.
Tagline “Aje Tue-Tue, Sing Enom Bae”, mencerminkan karakter acara ini. Ringan, jenaka, tapi penuh makna. Ia menjadi simbol bahwa anak muda Cilegon tidak ingin hanya menjadi penonton dari pembangunan kotanya. Mereka ingin terlibat, berpikir, berbuat, dan bertanggung jawab.
Semangat Baru dari Tanah Baja
Cilegon bukan hanya kota baja. Ia juga kota yang sedang ditempa oleh semangat muda. Banyak anak muda yang mulai berani tampil, berorganisasi, berkreasi, dan menolak diam.
Mereka lahir dari berbagai latar. Jurnalis, komunitas, pegiat seni, aktivis lingkungan, hingga pelaku usaha kreatif.
Lewat forum seperti FOLKALCER, mereka menemukan ruang untuk bertukar pandangan dan menguji gagasan. Di situlah nilai kepahlawanan masa kini diuji. Bukan di medan perang, tapi di ruang dialog.
Karena di zaman ini, menjadi pahlawan berarti berani berpihak pada masa depan. Berani menolak pasrah. Berani menjadi muda dan bertanggung jawab.
Harapan dari Sebuah Slogan
Seruan “Aje Tue-Tue, Sing Enom Bae!!!” bukan sekadar lelucon, tapi semacam manifesto, bahwa masa depan Cilegon harus dibangun oleh yang muda, untuk semua.
Dalam pelaksanaannya nanti, di bawah cahaya lampu kafe dan aroma kopi yang akrab, gagasan-gagasan muda itu akan mengalir.
Mungkin sederhana, mungkin belum sempurna. Tapi di situlah letak kepahlawanan sejati timbul melalui keberanian untuk memulai.
Karena pahlawan sejati bukan mereka yang menunggu giliran, tapi mereka yang berani mengambil langkah pertama.
Profil Singkat Penulis
Rizal Arif Baihaqi adalah pendiri Gen Cilegon dan Ketua Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD).
Dua gerakan yang berfokus pada penguatan ekosistem kebudayaan, literasi, dan kepemudaan di Kota Cilegon.
Saat ini ia aktif sebagai anggota Dewan Kebudayaan Kota Cilegon dan juga tercatat sebagai Wartawan tingkat Madya di Dewan Pers.
Sebagai jurnalis dan pegiat budaya, Rizal aktif menulis esai, berita, dan refleksi kebudayaan yang berpijak pada realitas sosial masyarakat Cilegon dan berupaya menjembatani nilai-nilai tradisi dengan semangat muda yang progresif.
Ia percaya bahwa menulis adalah cara lain untuk ikut membangun kota dengan kata, gagasan, dan keberanian untuk bermakna.
Selain menulis esai dan laporan budaya, Rizal juga terlibat dalam berbagai kegiatan kreatif dan advokasi kebudayaan di tingkat lokal.
Melalui karya dan kiprahnya, Rizal konsisten mengusung semangat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi ruang hidup yang harus terus dihidupi dan diperjuangkan oleh generasi muda. (Red)

Tinggalkan Balasan