Pajajaran yang Tidak Pernah Hilang, Bergantinya Nafas Peradaban
Oleh: Rizal Arif Baihaqi
Orang Sunda tidak mengenang sejarah dengan suara dentuman perang. Ia mengenangnya lewat carita, lewat papatah karuhun, lewat angin gunung yang membawa kabar pelan-pelan.
Tanggal 8 Mei 1579 dalam catatan sejarah disebut sebagai runtuhnya Kerajaan Pajajaran oleh Kesultanan Banten.
Namun dalam rasa kebudayaan Sunda, hari itu bukan sekadar runtuhnya kerajaan. Hari itu adalah pulangnya sebuah zaman.
Pajajaran: Kerajaan yang Hidup Bersama Alam
Bagi orang Sunda lama, kerajaan bukan hanya tempat raja bertahta. Kerajaan adalah keseimbangan. Gunung menjadi saksi. Leuweung (hutan) menjadi pelindung. Cai (air) menjadi kehidupan.
Raja bukan penguasa mutlak, melainkan penjaga harmoni antara manusia dan alam semesta. Karena itu sosok Sri Baduga Maharaja, yang dalam tutur rakyat dikenal sebagai Prabu Siliwangi, tidak hanya dikenang sebagai raja, tetapi sebagai karuhun agung atau leluhur kebijaksanaan. Pajajaran adalah dunia yang berjalan pelan, mengikuti irama musim dan sawah.
Ketika Angin Laut Datang
Lalu angin baru bertiup dari arah barat. Di pelabuhan Banten Lama, manusia dari banyak bangsa datang membawa bahasa, agama, dan cara hidup baru. Dunia tidak lagi berpusat pada gunung, tetapi pada laut.
Islam tumbuh bukan dengan menghapus Sunda, melainkan menyapa masyarakat melalui perdagangan, persaudaraan, dan pergaulan sehari-hari.
Kesultanan Banten hadir sebagai tanda zaman berubah. Dan seperti pepatah Sunda “Lamun cai robah jalur, lauk kudu bisa ngojay deui.” (Jika aliran air berubah, ikan harus belajar berenang kembali.)
Runtuhnya Istana, Bertahannya Jiwa
Ketika Pakuan Pajajaran jatuh, yang hilang hanyalah istananya. Orang Sunda percaya para pengikut setia tidak benar-benar musnah. Mereka turun gunung, menyatu dengan rakyat, menjaga adat di kampung-kampung.
Pajajaran lalu hidup dalam bentuk lain, dalam bahasa Sunda yang tetap halus, dalam tata krama hormat kepada sesepuh, dalam falsafah silih asah, silih asih, silih asuh, dalam rasa malu berbuat tidak adil. Kerajaan berubah menjadi kebudayaan.
Sunda: Tidak Menolak, Tidak Kehilangan
Keunikan Sunda bukan pada perlawanan keras, tetapi pada kemampuannya menyerap tanpa kehilangan jati diri. Banten membawa Islam. Sunda memberi rasa.
Masjid berdiri, tetapi nilai karuhun tetap hidup. Doa berubah bahasa, tetapi penghormatan pada alam tetap dijaga.
Di situlah Sunda menemukan jalannya, bukan memutus masa lalu, melainkan menyambungnya.
Pajajaran dalam Ingatan Orang Sunda
Bagi orang Sunda, Pajajaran bukan cerita kalah. Ia adalah cerita tentang eling (ingat kepada asal-usul). Karena sejatinya, Pajajaran bukan tempat, Pajajaran adalah sikap hidup.
Selama orang Sunda masih menjaga sopan santun, menghormati alam, dan memuliakan kebijaksanaan, maka Pajajaran tidak pernah benar-benar runtuh. Ia hanya bersembunyi di hati masyarakatnya.
Hikmah Karuhun untuk Zaman Sekarang
Tanggal 8 Mei mengingatkan kita bahwa kekuasaan bisa berganti, zaman bisa berubah, tetapi nilai luhur harus tetap dijaga.
Karuhun Sunda seolah berpesan “Ulah jadi jalma nu leungit ku robahna jaman.” (Jangan menjadi manusia yang hilang karena perubahan zaman.)
Pajajaran tenggelam sebagai kerajaan. Namun ia bangkit sebagai kebudayaan. Dan selama tanah Sunda masih bernapas, cerita itu akan terus hidup dan diceritakan ulang oleh generasi yang tidak pernah benar-benar melupakan asalnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan