Oleh: Rizal Arif Baihaqi

Di sebuah sudut barat Pulau Jawa, di mana debur ombak Anyer menyentuh tanah yang dahulu menjadi permulaan perjalanan panjang, terbentang titik nol kilometer. Dari sinilah, sejak masa kolonial, dunia seakan menjejak Banten untuk pertama kalinya.

Anyer bukan hanya gerbang menuju pelayaran dan jalur pos, tetapi juga pintu masuk peradaban yang menghubungkan masyarakat pesisir, pedalaman, hingga pusat-pusat kekuasaan Nusantara.

Namun sejarah jarang berjalan lurus. Ia selalu dihiasi letupan, kadang metaforis, kadang sangat nyata.

Ketika Krakatau Meletus dan Anyer Runtuh

Pada 1883, Gunung Krakatau memecah sunyi. Letusannya bukan sekadar peristiwa alam. Ia menjadi penanda perubahan nasib sebuah wilayah.

Gelombang tsunami yang menyusul menyapu Anyer, meluluhlantakkan permukiman, pelabuhan, hingga pusat administrasi kolonial Belanda.

Di antara puing-puing itulah Belanda mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pemerintahan dari Anyer ke Cilegon. Tidak hanya karena faktor keamanan, namun karena Cilegon berada pada posisi yang lebih stabil sekaligus dekat dengan jalur pergerakan masyarakat Banten.

Perpindahan pusat administrasi ini secara tidak langsung membawa peralihan gravitasi budaya dari pesisir Anyer menuju wilayah agraris dan industri rakyat di Cilegon.

Cilegon: Tanah yang Mengendapkan Gelombang Perlawanan

Cilegon bukan sekadar lokasi alternatif bagi pemerintahan kolonial. Ia adalah tanah tempat pergerakan bawah tanah tumbuh subur. Di desa-desa dan langgar-langgar kecil, ulama, jawara, petani, dan masyarakat biasa saling bertukar kabar tentang ketidakadilan kolonial.

Hingga pada akhirnya, sejarah mencatat Geger Cilegon 1888 sebagai salah satu peristiwa perlawanan lokal terbesar di Nusantara pada abad ke-19.

Para pemimpin spiritual dan jawara menyatukan tekad, menggerakkan massa, dan menyalakan bara perjuangan yang kelak menginspirasi perlawanan di wilayah lain.

Dari Cilegon, gelombang perlawanan menyebar seperti gema yang tidak pernah benar-benar usai.

Kini Cilegon Menjadi Kiblat Baru Kebudayaan

Lebih dari seabad kemudian, Cilegon kembali memanggil sejarah. Kota yang dahulu diasosiasikan dengan industri kini mulai menggantikan citranya, membangun wajah baru menuju kota kebudayaan.

 

Hadirnya Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC) menjadi momentum yang mempertebal identitas itu. DKKC bukan hanya kelembagaan administratif, melainkan ruang konsolidasi gagasan, tempat para seniman, budayawan, peneliti, penggerak komunitas, dan masyarakat adat menata ulang arah kebudayaan Cilegon.

Dari festival, riset budaya, penciptaan karya, hingga diplomasi budaya lintas daerah, Cilegon mulai menegaskan dirinya sebagai pusat gravitasi baru di Banten.

Jika titik nol kilometer berada di Anyer, maka hari ini mungkin titik nol kebudayaan Banten sedang dipahat ulang di Cilegon.

Bisakah Cilegon Menjadi Titik Awal Peradaban Baru?

Sejarah pernah menunjukkan bahwa Cilegon mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar. Ulama, jawara, petani, saudagar, hingga rakyat jelata, dalam satu gelora yang sama.

Semangat itu yang kini direstorasi, bukan untuk perlawanan bersenjata, tetapi untuk membangun kebudayaan yang kuat, inklusif, dan berperadaban.

Cilegon memiliki modal sosial itu:

• Ingatan kolektif tentang keberanian dan persatuan.

• Ragam tradisi yang hidup di kampung-kampung dan padepokan.

• Generasi muda kreatif yang haus ruang ekspresi.

• Kelembagaan budaya yang mulai tertata.

• Jejaring yang meluas hingga tingkat provinsi dan nasional.

Jika dulu Geger Cilegon menjadi inspirasi perlawanan terhadap kolonialisme, maka kini Cilegon dapat menjadi inspirasi kebangkitan budaya baru, kebudayaan yang mempersatukan, memberdayakan, dan menyalakan kembali semangat Banten.

Maka, ketika orang bertanya, “Bisakah Cilegon menjadi titik awal peradaban atau kebudayaan di Banten?”

Sejarah menjawab, Cilegon pernah menjadi pusat nyala perlawanan. Kini ia berpeluang menjadi pusat nyala kebudayaan.

Dan seperti letusan Krakatau yang mengubah peta daerah, kelahiran DKKC hari ini mungkin sedang mengubah peta kebudayaan di Banten.

Pelan, tetapi pasti.

 

to be continued…