oleh Arifin Al Bantani

Kesehatan sebagai Investasi Masa Depan

Kesehatan selalu menjadi fondasi utama dalam perjalanan manusia. Ia bukan sekadar ketiadaan penyakit, tetapi suatu keadaan utuh yang mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.

Dalam berbagai diskusi akademik mengenai kesehatan masyarakat, saya sering menemukan bahwa kesehatan kerap dipahami secara parsial dan reaktif, baru dianggap penting ketika gangguan sudah datang. Padahal, kesehatan seharusnya ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kebutuhan sesaat.

Dalam konteks pembangunan daerah seperti Kota Cilegon, kesehatan memegang peranan strategis. Kota yang maju tidak hanya ditandai oleh infrastruktur yang megah, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan gaya hidup sehat.

Masyarakat sehat adalah modal sosial yang menentukan ketahanan ekonomi, kualitas lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan. Karena itu, setiap upaya untuk menata kota sejatinya harus dimulai dari upaya menata manusia yang tinggal di dalamnya.

Etika Gerak sebagai Kerangka Berpikir Baru

Gerakan “Deg’s – Dengan Etika Gerak Kita Sehat”, bagi saya, bukan sekadar sebuah kampanye kesehatan. Ia merupakan tawaran kerangka berpikir baru tentang bagaimana manusia memosisikan tubuh dan geraknya.

Konsep etika gerak menegaskan bahwa aktivitas fisik harus dilakukan bukan karena keterpaksaan atau sekadar mengikuti tren, melainkan sebagai praktik kesadaran, bahwa tubuh memiliki hak untuk dirawat dan digerakkan.

Berbagai penelitian kesehatan membuktikan bahwa aktivitas fisik moderat, berjalan santai, bersepeda, senam, maupun olahraga ringan, mampu meningkatkan kebugaran kardiovaskular, memperbaiki metabolisme, menurunkan risiko penyakit degeneratif, hingga memperkuat kesehatan mental.

Dengan kata lain, gerak bukan hanya aktivitas jasmani, tetapi juga bentuk kompetensi diri dalam mengelola kesehatan.

Kesehatan sebagai Investasi Jangka Panjang

Dalam disiplin public health, kesehatan dipahami melalui tiga pilar yang harus dibangun secara simultan:

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): termasuk pola makan seimbang, kebersihan diri, sanitasi yang memadai, serta pengendalian stres.

Aktivitas Fisik Teratur: sekurang-kurangnya 150 menit per minggu sebagaimana direkomendasikan WHO untuk orang dewasa.

Pencegahan Penyakit: meliputi pemeriksaan kesehatan berkala, imunisasi, dan edukasi kesehatan berkelanjutan.

Ketika ketiga pilar ini dijalankan secara konsisten, masyarakat tidak hanya terhindar dari risiko penyakit, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang lebih stabil. Biaya kesehatan dapat ditekan, usia harapan hidup meningkat, dan produktivitas masyarakat turut menguat.

Inilah yang saya maksud dengan kesehatan sebagai investasi. Ia tidak memberikan hasil instan, tetapi manfaatnya akan dirasakan sepanjang perjalanan hidup.

Pribadi Sehat Menjadi Pondasi Kota Sehat

Dalam banyak kesempatan, saya selalu menyampaikan bahwa pembangunan kesehatan harus dibaca sebagai rantai struktural.

Individu → Keluarga → Komunitas → Masyarakat → Kota.

Jika salah satu mata rantai ini lemah, maka konstruksi kesehatan kota akan rapuh.

Karena itu, kesadaran individu adalah titik berangkat yang paling menentukan. Tidak ada kota sehat tanpa pribadi yang sehat, tidak ada keluarga sehat tanpa anggota keluarga yang menempatkan kesehatan sebagai prioritas.

Sebagaimana sering saya tegaskan:

“Negara yang sehat merupakan susunan dari masyarakat yang sehat. Masyarakat yang sehat terdiri dari keluarga-keluarga yang sehat, dan keluarga yang sehat diawali dari pribadi yang sehat.”

Pernyataan ini bukan hanya prinsip moral, tetapi juga prinsip ilmiah dalam kajian kesehatan komunitas. Infrastruktur, fasilitas medis, dan teknologi kesehatan hanyalah alat bantu. Yang menentukan keberhasilan adalah perilaku dan kesadaran manusia sebagai subjek pembangunan.

Menuju Cilegon yang Lebih Sehat

Gerakan “Deg’s – Dengan Etika Gerak Kita Sehat” saya pandang sebagai momentum penting untuk membentuk budaya hidup sehat yang lebih kokoh di Kota Cilegon. Ini bukan slogan yang hanya diucapkan pada acara seremonial, melainkan ajakan ilmiah, sosial, dan moral untuk membangun kesadaran kolektif.

Dengan memadukan ilmu kesehatan masyarakat, pendekatan berbasis komunitas, dan komitmen individu, kita dapat melangkah menuju Cilegon yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.

Kesehatan bukan hadiah, ia adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang kita ulang setiap hari. Dan melalui etika gerak, kita belajar bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari cara kita menghargai kehidupan itu sendiri. (*)

Profil Singkat

Arifin Al Bantani merupakan salah satu tokoh aktif dalam pengembangan literasi dan kebudayaan di Kota Cilegon. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua I Forum Kota Sehat (FKS) Cilegon, sebuah lembaga yang berperan dalam mendorong terwujudnya kota yang bersih, aman, nyaman, dan sehat melalui kolaborasi lintas sektor.

Selain itu, Arifin juga dipercaya sebagai Dewan Kehormatan Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD). Dalam kapasitas ini, ia turut memberi arah etis bagi ekosistem jurnalisme daerah, khususnya terkait penguatan integritas, literasi publik, dan etika pemberitaan.

Ia dikenal sebagai sosok yang konsisten mendorong media untuk tetap berperan sebagai pilar edukasi sosial dan pengawal pembangunan. Pemikirannya banyak digunakan sebagai rujukan dalam forum-forum diskusi, pelatihan, maupun kegiatan advokasi di tingkat kota.

Arifin dikenal sebagai figur yang tegas namun inklusif, mengedepankan pendekatan humanis, dan berkomitmen membangun “kota sehat” tidak hanya melalui infrastruktur, tetapi melalui kesadaran masyarakat sebagai subjek utama pembangunan. (Red)