CILEGONSATU.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai penerus sekaligus penjaga kebudayaan daerah di tengah perkembangan Kota Cilegon sebagai kota industri modern.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heni Anita Susila, menyampaikan bahwa pembangunan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan anak-anak dan pelajar sebagai pewaris nilai-nilai tradisi.
Menurutnya, generasi muda harus menjadi subjek utama dalam proses pelestarian budaya agar tradisi tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang sesuai zamannya.
“Anak-anak merupakan generasi penerus sekaligus penjaga kebudayaan. Mereka perlu kita dukung, fasilitasi, dan apresiasi agar tradisi tetap hidup dan berkembang,” ujarnya, Kamis (23/4/2026) dalam peluncuran buku Toponomi Cilegon di Alun-alun Kota Cilegon.
Melalui Balai Budaya Kota Cilegon, Dindikbud secara konsisten menyelenggarakan berbagai program pembinaan seni tradisional, termasuk pelatihan Kesenian Ubrug, sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.
Program tersebut, lanjutnya, tidak hanya berfokus pada keterampilan seni, tetapi juga membangun karakter, identitas, serta rasa memiliki terhadap kebudayaan daerah.
Dindikbud Cilegon menilai penguatan pendidikan berbasis kebudayaan menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang berpotensi menggeser nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, pelajar didorong untuk mengenal sejarah daerah, tradisi masyarakat, serta ruang budaya yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kegiatan peluncuran buku Toponomi Cilegon yang diselenggarakan Yayasan Asiatul Jannah turut menjadi momentum edukatif bagi generasi muda untuk memahami sejarah ruang Kota Cilegon melalui kajian toponomi, tradisi tutur, serta jejak sosial masyarakat.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Dengan keterlibatan aktif generasi muda, Kota Cilegon diharapkan terus berkembang sebagai kota industri yang maju tanpa kehilangan akar sejarah, nilai budaya, dan kearifan lokalnya.
Ditempat yang sama, Ketua Yayasan Asiatul Jannah, Ahdi Zukhruf Amri, menyampaikan bahwa dokumentasi sejarah lokal melalui buku tersebut diharapkan dapat menjadi referensi pembelajaran bagi pelajar dan masyarakat.
“Melalui sejarah, sastra, dan tradisi tutur, kami ingin menghadirkan identitas Kota Cilegon yang hidup dari masyarakatnya sendiri,” katanya. (Red)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan